PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN PEMBELIAN
Proses
pengambilan keputusan (untuk membeli atau tidak membeli) oleh decider meliputi kegiatan: (1)
perumusan masalah, (2) pengumpulan informasi, (3) pengembangan dan penilaian
alternatif, (4) penentuan alternatif terbaik atau pengambilan keputusan, dan
(5) kegiatan setelah keputusan diambil.
- Masalah : Adanya kesenjangan antar keadaan sekarang (kondisi nyata) dengan keadaan yang diharapkan (kondisi ideal). Kesenjangan ini dikuatkan oleh stimuli (internal dan eksternal). Masalah yang umumnya dihadapi oleh calon pembeli adalah kebutuhan yang perlu dipenuhi. Ketiadaan makanan meruoakan persoalan bagi seseorang yang lapar, misalnya. Makanan yang berkolesterol tinggi merupakan permasalahan bagi orang yang sangan memperhatikan kesehatan.
- Informasi : Informasi diperlukan untuk pendukung dasar pengambilan keputusannnya. Sumber informasi meliputi: personal (berita tentang dibukanya restoran baru dari tetangga atau teman kantor), komersial (iklan dimajalah), publik (berita dari televisi atau radio), dan pengalaman (merasakan kelezatan makanan di restoran baru).
- Evaluasi alternatif : Alternatif membeli atau tidak membeli produk (merk) tertentu, dipengaruhi oleh pertimbangan atribut produk. Yaitu meliputi: manfaat, kepentingan, image, dan fungsi yang diharapkan. Pertimbangan tersebut seringkali diperbandingkan antara manfaat yang akan diperoleh dengan biaya yang akan dikeluarkan untuk memperoleh atau setelah membeli produk tersebut. Mempertimbangkan untuk membeli mobil kedua adalah pilihan antara keleluasaan pemakaian dan tambahan investasi maupun biaya perawatan.
- Keputusan : Hasil evaluasi alternatif adalah oenentuan keputusan membeli meliputi 5W+1H (apa, berapa, kapan, dimana,bagaimana,dst.) atau keputusan tidak membeli sesuatu.
- Perilaku tindak-lanjut setelah pembelian : Pengalaman setelah pembelian akan merupakan masukan yang akan memperkuat(memperlemah perilaku pembelian kemudian hari.
PERILAKU PEMBELIAN
Perilaku
pembelian konsumen dpat dibedakan dalam beberapa kategori menurut dasar: (1)
usaha pemecahan masalah yang dhadapi calon pembeli serta (2) keterlibatan
pembeli dan perbedaan merk produk yang hendak dipilih untuk dibeli.
Perilaku pembelian berdasarkan
usaha pemecahan masalah:
Prooses
pembelian seseorang yang konsisten pada periode tertentu membentuk perilakunya.
Pembentukan perilaku pembelian sebenarnya merupakan usaha-usahaa seseorang
mengatasi masalah yang dihadapinya.
Berdasarkan
usaha pemecahan masalah tersebut, perilaku pembelian dapat dibedakan menjadi:
(1) Perilaku respon rutin (Routinezed
Response Behavior), (2) Perilaku pemecahan masalah yang terbatas (Limited Problem Solving), (3) Perilaku
pemecahan masalah yang ekstensif (Extensive
Problem Solving).
1. Perilaku
respon rutin (Routinezed Response
Behavior).
Adala
perilaku pembelian rutin untuk persoalan yang sering dihadapi. Umumnya frekuensi
kebutuhan produk tinggi, misalnya kebutuhan barang-barang sehari-hari: makanan,
sabu,dsb. Oleh karena sering dibeli, maka keterlibatan konsumen terhadap produk
tidak tinggi (tidak terlalu memerlukan usaha pemikiran yang besar untuk
membanding-bandingkan dengan merk produk lain). Ini dimungkinkan karena pada
pemikiran konsumen sudah mempunyai gambaran yang jelas akan kelas dan konsep
produknya.
2. Perilaku
pemecahan masalah yang terbatas (Limited
Problem Solving).
Adalah
perilaku pembelian yang memerlukan usaha pemecahan persoalan yang terbatas
karena frekuensi pemebeliannya tidak begitu tinggi, maka perlu pemikiran yang
agak tinggi. Sehingga diperlukan keterlibatan terhadap barang yang akan dibeli.
3. Perilaku
pemecahan masalah yang ekstensif (Extensive
Problem Solving).
Adalah
perilaku pemebelian untuk mengatasi persoalan yang sangat tidak rutin. Karena frekuensi
pemebelian yang dilakukan sangat jarang, maka diperlukan usaha-usaha
pertimbangan pembelian barang atau pemilihan merk yang tinggi. Diperlukan keterlibatan
terhadap barang tinggi karena ketidak kuasai akan konsep kelas produk maupun
konsep produk.
Perilaku pembelian berdasarkan
keterlibatan pembeli dan perbedaan merk:
Perilaku pembelian konsumen
berdasarkan keterlibatan konsumen terhadap produk yang akan dibeli dan
perbedaan merk yang akan dipilih dan merek lain dapat dibedakan dalam 4
kelompok perilaku pembelian: (1) Perilaku pembelian yang kompleks, (2) Perilaku
pembelian pencarian variasi, (3) Perilaku pembelian menekan ketidaksesuaian,
dan (4) perilaku pembelian kebiasaan.
1.
Perilaku
pembelian yang kompleks.
Perilaku pembelian akan
menjadi persoalan yang kompleks apabila menuntut keterlibatan pembeli terhadap
produk yang akan dipilih adalah tinggi. Misalnya diperlukan pertimbangan untuk
membeli sebuah mobil baru untuk pertama kalinya. Disamping itu juga karena
apabila perbedaan tawaran produk yang akan dipilih dengan alternatif produk
lain adalah cukup besar.
2. Perilaku pembelian pencarian
variasi.
Meskipun perbedaan
produk yang ditawarkan cukup tinggi dan pembeli tidak begitu menghiraukannya
maka pilihan alternatif produk hanyalah sebgai variasi. Penggantian merk bukan
karena ketidakpuasan tetapi lebih karena sekedar merasakan berbagai ragam merk
saja.
3. Perilaku pembelian menekan
ketidaksesuaian.
Pembeli sangat
memperhatikan produk yang dibeli, tetapi karena perbedaan antar merk tidak
memenuhi maka pembeli akan mengalihkan perhaatiannya pada hal-hal lain yang
dipakai sebagi penentuan pilihannya. Misalnya kemudahan dalam pembelian,
kondisi tempat penjualan, dan sebagainya.
4. Perilaku pembelian kebiasaan.
Kondisi seperti ini seringkali
dijumpai. Pembeli tigak banyak menghiraukan akan merk untuk memilh barang yang
sebenarnya tidak banyak berbeda dengan yang lai. Oleh karena itu dasar
pembelian suatu produk tertentu bukan karena setia terhadap merk, tetapi lebih
banyak karena kebiasaan terhadap merk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar