Berpikir Induktif
1.
Berpikir Induktif
Penalaran induktif adalah proses
berpikir untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku umum
berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat khusus. Prosesnya disebut induksi.
Induksi adalah cara mempelajari
sesuatu yang bertolak dari hal-hal atau peristiwa khusus untuk menentukan hukum
yang umum. Induksi merupakan cara berpikir dimana ditarik suatu kesimpulan yang
bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual. Penalaran secara
induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang
lingkup yang khas dan terbatas dalam menyusun argumentasi yang diakhiri dengan
pernyataan yang bersifat umum (filsafat ilmu.hal 48
Jujun.S.Suriasumantri Pustaka Sinar Harapan. 2005)
Proses penalaran ini mulai
bergerak dari penelitian dan evaluasi atas fenomena yang ada, maka disebut
sebagai sebuah corak berpikir yang ilmiah karena perlu proses penalaran yang
ilmiah dalam penalaran induktif.
Hukum yang disimpulkan
difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti.
Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif. (www.id.wikipedia.com)
Jalan induksi mengambil jalan
tengah, yakni di antara jalan yang memeriksa cuma satu bukti saja dan jalan
yang menghitung lebih dari satu, tetapi boleh dihitung semuanya satu persatu.
Induksi mengandaikan, bahwa karena beberapa (tiada semuanya) di antara bukti
yang diperiksanya itu benar, maka sekalian bukti lain yang sekawan, sekelas
dengan dia benar pula. Penalaran induktif dapat berbentuk generalisasi,
analogi, atau hubungan sebab akibat.
Generalisasi adalah proses berpikir
berdasarkan hasil pengamatan atas sejumlah gejala dan fakta dengan sifat-sifat
tertentu mengenai semua atau sebagian dari gejala serupa itu. Analogi merupakan
cara menarik kesimpulan berdasarkan hasil pengamatan terhadap sejumlah gejala
khusus yang bersamaan. Hubungan sebab akibat ialah hubungan ketergantungan
antara gejala-gejala yang mengikuti pola sebab akibat, akibat sebab, dan
akibat-akibat.
2. Penalaran dalam karangan
Dalam praktik, proses penalaran tidak dapat terpisahkan dengan proses pemikiran. Tulisan merupakan perwujudan hasil kinerja proses berpikir. Tulisan yang baik, sistematis, dan logis mencermtnkan proses berpikir yang baik juga. Begitu juga sebaliknya, tulisan yang kacau mencerminkan proses dan kinerja berpikir yang kacau pula. Karena itu pelatihan keterampilan menulis pada hakikatnya merupakan hal pembiasaan berpikir-bernalar secara tertib dalam bahasa yang tertib pula.
Suatu karya tulis merupakan hasil proses berpikir yang mungkin merupakan hasil deduksi, induksi, atau gabungan di antara keduanya. Suatu tulisan yang bersifat deduktif dibuka dengan suatu pernyataan umum berupa kaidah, teori, peraturan, atau pernyataan lainnya. Selanjutnya pernyataan tersebut dikembangkan dengan pernyataan-pernyataan atau rincian-rincian khusus. Sebaliknya, suatu karya tulis yang induktif dibuka dengan rincian-rincian khusus dan diakhiri dengan suatu kesimpulan umum atau generalisasi. Gabungan antara keduanya dimulai dengan pernyataan umum, diikuti dengan rincian-rincian dan diakhiri dengan pengulangan pernyataan umum yang dikemukakan sebelumnya.
Secara praktis, proses penalaran deduktif dan induktif dikembangkan dalam bentuk paragraf. Yang perlu diperhatikan adalah arah atau alur penalaran dan cara pewujudannya dalam karya tulis. Hal tersebut sangat berhubungan dengan urutan pengembangkan dan isi karangan.
Pola pengembangan gagasan dapat dilakukan dengan 1) urutan kronologis; 2) urutan spasial; 3) urutan alur penalaran.; dan 4) urutan kepentingan.
1. Urutan kronologis ditandat dengan penggunaan kata-kata seperti dewasa ini, sekarang, bila, sebelum, sementara itu, sejak saat itu, selanjutnya, dalam pada itu, mula-mula. Bentuk tulisan ini biasanya dipergunakan untuk memaparkan sejarah, proses, asal-usul, dan biografi/riwayat hidup.
2. Urutan spasial digunakan untuk menyatakan tempat atau hubungan dengan ruang, Biasanya dipakai dengan urutan waktu. Pola ini biasanya menggunakan kata-kata di sini, di situ, di, pada, di bawah, di atas, di tengah, berhadapan, bertolak belakang, berseberangan, dan lain-lain.
3. Urutan penalaran menghasilkan paragraf deduktif dan induktif. Sedangkan 4. urutan kepentingan dikembangkan berdasarkan skala prioritas gagasan yang dikemukakan., dari yang paling penting, menuju yang penting, ke yang kurang penting.
Generalisasi adalah suatu proses
penalaran yang bertolak belakang dari sejumlah fenomena individual untuk
menurunkan suatu inferensi yang bersifat umum yang mencakup semua fenomena –
fenomena itu. Generalisasi akan mempunyai makna penting, jika kesimpulan yang
diturunkan dari fenomena tadi bukan saja mencakup semua fenomena itu, tetapi
juga harus berlaku pada semua fenomena-fenomena lain yang sejenis yang belum
diselediki.
Mengenai data atau fakta dalam
pengertian fenomenal individual tadi, selalu terarah kepada pengertian mengenai
sesuatu hal yang individual. Dalam kenyataannya data atau fakta yang
dipergunakan itu sebenarnya merupakan generalisasi juga , yang tidak lain dari
sebuah hasil penalaran yang induktif.
Contoh : bila seseorang berkata
bahwa mobil adalah semacam kendaraan pengangkut, maka pengertian mobil dan
kendaraan pengangkut merupakan hasil generalisasi juga. Dari bermacam-macam
tipe kendaraan dengan ciri-ciri tertentu ia mendapatkan sebuah gagasan mengenai
mobil, sedangkan dari bermacam-macam alat untuk mengangkut sesuatu lahirlah
abstraksi yang lebih tinggi (generalisasi lagi) mengenai kendaraan pengangkut.
Contoh lainnya:
(1) jika dipanaskan,
besi memuai.
(2) Jika dipanaskan,
tembaga memuai.
(3) Jika dipanaskan,
emas memuai.
(4) Jika dipanaskan,
platina memuai
(5) Jadi, jika
dipanaskan, logam memuai.
Generalisasi sendiri dapat
dibedakan menjadi loncatan induktif dan bukan loncatan induktif.
- Loncatan induktif
Generalisasi yang bersifat
loncatan induktif tetap bertolak dari beberapa fakta, namun fakta yang
digunakan belum mencerminkan seluruh fenomena yang ada. Dengan demikian
loncatan induktif dapat diartikan sebagai loncatan dari sebagian evidensi
kepada seluruh suatu generalisasi yang jauh melampaui kemungkin yang diberi
oleh evidensi-evidensi itu. Generalisasi semacam ini menagandung kelemahan dan
mudah ditolak kalu terdapat evidensi-evidensi yang bertentangan. Tetapi jika
sampel yang dipergunakan itu secara kualitatif kuat kedudukannya, maka
generalisasi semacam itu juga akan kuat dan sahih sifatnya, apalagi jika bisa
diperbanyak lagi fakta atau evidensi yang menunjang. Bila berdasarkan beberapa
orang yang dijumpai suku A masih sangat terkebelakang, maka hal ini
merupakan contoh yang jelas mengenai loncatan induktif.
2. Tanpa loncatan induktif
Sebuah generalisasi tidak
mengandung loncatan induktif bila fakta-fakta yang diberikan cukup banyak dan
meyakinkan, sehingga tidak terdapat peluang untuk menyerang kembali.
Oleh karena itu, perbedaan
antara generalisasi dengan loncatan induktif dan tanpa loncatan induktif
sebenarnya terletak dalam persoalan jumlah fenomena yang diperlukan. Sebenarnya
generalisasi merupakan proses yang biasa dilakukan oleh setiap orang. Bagi
orang kebanyakan, generalisasi itu tidak lain dari penambahan setengah sadar
akan hal-hal umum berdasarkan pengalamannya dari hari ke hari. Bila suatu waktu
ia mendapat hardikan dari atasannya karena membuat kesalahan, maka belum ada
sikap yang timbul pada dirinya.
Tetapi bila peristiwa semacam
itu dialaminya berulang-ulang kali, juga dialami oleh kawan-kawan lainnya, maka
mau tidak mau akan timbul suatu generalisasi mengenai atasan itu: Atasannya
adalah seorang yang kejam. Arus baliknya akan menimbulakan suatu sikap : karena
atasan ini seseorang yang kejam, maka jangan membuat kesalahan kecil sekalipun,
agar tadak mendapat umpatan dan hardikan yang tidak perlu.
Proses untuk merumuskan sebuah
generalisasi dapat digambarkan dalam skema berikut:
Karena generalisasi itu sering
mendahului observasi atas sejumlah peristiwa yang cukup meyakinkan, maka perlu
diadakan pengecekan atau evaluasi atas generalisasi tersebut. Pengujian atau
evaluasi tersebut terdiri dari:
- Harus diketahui apakah sudah cukup banyak jumlah peristiwa yang diselediki sebagai dasar generalisasi tersebut (ciri kuantitatif)
- Apakah peristiwa-peristiwa itu merupakan contoh yang baik (sampel yang baik :ciri kualitatifnya) bagi semua jenis peristiwa yang diselidiki? Dengan memilih peristiwa-peristiwa yang khusus, boleh dikatakan bahwa generalisasi itu akan kuat kedudukannya.
- Hal lain yang perlu diperhatikan adalah memperhitungkan kekecualian-kekecualian yang tidak sejalan dengan generalisasi itu. Kekecualian itu harus diperhitungkan denagn dasar yang rasional dan pemikiran logis.
- Perumusan generalisasi itu sendiri juga harus absah.
4. hipotesis dan teori
1. Hipotesis
Secara bahasa hipotesis berasal
dari dua kata, yaitu hypo artinya sebelum dan thesis artinya
pernyataan atau pendapat. Secara istilah hipotesis adalah suatu pernyataan yang
pada waktu diungkapkan belum diketahui kebenarannya, tetapi memungkinkan untuk
diuji dalam kenyataan empiris. Karena hipotesis merupakan pernyataan sementara
yang masih lemah kebenarannya.
Dalam penggunaannya sehari-hari
hipotesa ini sering juga disebut dengan hipotesis, tidak ada perbedaan makna di dalamnya.
Ketika berfikir untuk
sehari-hari, orang sering menyebut hipotesis sebagai sebuah anggapan,
perkiraan, dugaan, dan sebagainya. Hipotesis juga berarti sebuah pernyataan
atau proposisi yang mengatakan bahwa
diantara sejumlah fakta
ada hubungan
tertentu. Proposisi inilah yang akan membentuk proses terbentuknya sebuah
hipotesis di dalam penelitian, salah satu diantaranya yaitu Penelitian
sosial.
Proses pembentukan hipotesis
merupakan sebuah proses
penalaran,
yang melalui tahap-tahap tertentu. Hal demikian juga terjadi dalam pembuatan hipotesis
ilmiah, yang
dilakukan dengan sadar, teliti, dan terarah. Sehingga dapat dikatakan bahwa
sebuah Hipotesis merupakan satu tipe proposisi yang langsung dapat diuji.
Penetapan hipotesis dalam sebuah
penelitian memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Memberikan batasan dan
memperkecil jangkauan penelitian dan kerja penelitian.
2. Mensiagakan peneliti kepada
kondisi fakta dan hubungan antar fakta, yang kadangkala hilang begitu saja dari
perhatian peneliti.
3. Sebagai alat yang sederhana
dalam memfokuskan fakta yang bercerai-berai tanpa koordinasi ke dalam suatu
kesatuan penting dan menyeluruh.
4. Sebagai panduan dalam
pengujian serta penyesuaian dengan fakta dan antar fakta.
– Ciri Hipotesis Yang Baik
Perumusan hipotesis yang baik
dan benar harus memenuhi ciri-ciri sebagai berikut:
1. Hipotesis harus dinyatakan
dalam bentuk kalimat pernyataan deklaratif, bukan kalimat pertanyaan.
2. Hipotesis berisi penyataan
mengenai hubungan antar paling sedikit dua variabel penelitian.
3. Hipotesis harus sesuai dengan
fakta dan dapat menerangkan fakta.
4. Hipotesis harus dapat diuji (testable).
Hipotesis dapat duji secara spesifik menunjukkan bagaimana variabel-variabel
penelitian itu diukur dan bagaimana prediksi hubungan atau pengaruh antar
variabel termaksud.
5. Hipotesis harus sederhana
(spesifik) dan terbatas, agar tidak terjadi kesalahpahaman pengertian.
Beberapa contoh hipotesis
penelitian yang memenuhi kriteria yang tersebut di atas:
1. Olahraga teratur dengan dosis
rendah selama 2 bulan dapat menurunkan kadar gula darah secara signifikan pada
pasien IDDM.
2. Pemberian tambahan susu
sebanyak 3 gelas per hari pada bayi umur 3 bulan meningkatkan berat badan
secara signifikan.
– Jenis-Jenis Hipotesis
Penetapan hipotesis tentu
didasarkan pada luas dan dalamnya serta mempertimbangkan sifat dari masalah
penelitian. Oleh karena itu, hipotesispun bermacam-macam, ada yang didekati
dengan cara pandang: sifat, analisis, dan tingkat kesenjangan yang mungkin muncul
pada saat penetapan hipotesis.
- Hipotesis dua arah dan hipotesis satu arah
Hipotesis penelitian dapat
berupa hipotesis dua-arah dan dapat pula berupa hipotesis satu-arah. Kedua
macam tersebut dapat berisi pernyataan mengenai adanya perbedaan atau adanya hubungan.
Contoh hipotesis dua arah:
1. Ada perbedaan tingkat
peningkatan berat badan bayi antara bayi yang memperoleh susu tambah 3 gelas
dari ibu yang berperan ganda dan tidak berperan ganda.
2. Ada hubungan antara tingkat
kecemasan dengan prestasi belajar siswa.
Hipotesis dua-arah memang kurang
spesifik, oleh karena itu perlu diformulasikan dalam hipotesis satu-arah.
Contoh:
1. Terdapat perbedaan
peningkatan berat badan bayi yang signifikan antara bayi yang memperoleh susu
tambah 3 gelas dari ibu yang berperan ganda dan tidak berperan ganda.
2. Ada hubungan yang cukup kuat
antara tingkat kecemasan siswa dengan prestasi belajar siswa.
– Hipotesis dalam penelitian
Penggunaan hipotesis dalam suatu
penelitian didasarkan pada masalah atau tujuan penelitian.
Dalam masalah atau tujuan penelitian tampak apakah penelitian
menggunakan hipotesis atau tidak. Contohnya yaitu Penelitian eksplorasi
yang tujuannya untuk menggali dan mengumpulkan sebanyak mungkin data atau informasi
tidak menggunakan hipotesis. Hal ini sama dengan penelitian deskriptif, ada yang berpendapat
tidak menggunakan hipotesis sebab hanya membuat deskripsi atau mengukur secara
cermat tentang fenomena
yang diteliti tetapi ada juga yang menganggap penelitian deskriptif dapat
menggunakan hipotesis. Sedangkan, dalam penelitian penjelasan yang bertujuan
menjelaskan hubungan antar-variabel adalah keharusan untuk menggunakan hipotesis.
Fungsi penting hipotesis di
dalam penelitian,
yaitu:
- Untuk menguji teori,
- Mendorong munculnya teori,
- Menerangkan fenomena sosial,
- Sebagai pedomanuntuk mengarahkan penelitian,
- Memberikan kerangka untuk menyusun kesimpulan yang akan dihasilkan.
– Tahap-tahap pembentukan hipotesis secara umum
tahap-tahap pembentukan hipotesa
pada umumnya sebagai berikut:
- Penentuan masalah.
Dasar penalaran ilmiah ialah
kekayaan pengetahuan
ilmiah yang biasanya timbul karena sesuatu keadaan atau peristiwa yang terlihat
tidak atau tidak dapat diterangkan berdasarkan hukum atau teori atau dalil-dalil ilmu yang sudah
diketahui. Dasar penalaran pun sebaiknya dikerjakan dengan sadar dengan
perumusan yang tepat. Dalam proses penalaran ilmiah tersebut, penentuan masalah
mendapat bentuk perumusan masalah.
- Hipotesis pendahuluan atau hipotesis preliminer (preliminary hypothesis).
Dugaan atau anggapan sementara
yang menjadi pangkal bertolak dari semua kegiatan. Ini digunakan juga dalam
penalaran ilmiah. Tanpa hipotesa preliminer, observasi
tidak akan terarah. Fakta
yang terkumpul mungkin tidak akan dapat digunakan untuk menyimpulkan suatu konklusi, karena tidak relevan
dengan masalah
yang dihadapi. Karena tidak dirumuskan secara eksplisit, dalam penelitian,
hipotesis priliminer dianggap bukan hipotesis keseluruhan penelitian,
namun merupakan sebuah hipotesis yang hanya digunakan untuk melakukan uji coba
sebelum penelitian sebenarnya dilaksanakan. Pengumpulan fakta. Dalam
penalaran ilmiah, diantara jumlah fakta yang besarnya tak terbatas itu hanya
dipilih fakta-fakta yang relevan dengan hipotesa preliminer
yang perumusannya didasarkan pada ketelitian dan ketepatan memilih fakta.
–
Formulasi hipotesa.
Pembentukan hipotesa dapat
melalui ilham atau intuisi, dimana logika tidak dapat berkata apa-apa tentang
hal ini. Hipotesa diciptakan saat terdapat hubungan tertentu diantara sejumlah
fakta. Sebagai contoh sebuah anekdot yang jelas menggambarkan
sifat penemuan dari hipotesa, diceritakan bahwa sebuah apel jatuh dari pohon
ketika Newton tidur di bawahnya dan teringat olehnya bahwa semua benda pasti
jatuh dan seketika itu pula dilihat hipotesanya, yang dikenal dengan hukum
gravitasi.
–
Pengujian hipotesa.
artinya mencocokkan hipotesa
dengan keadaan yang dapat diobservasi dalam istilah ilmiah hal ini disebut verifikasi(pembenaran).
Apabila hipotesa terbukti cocok dengan fakta maka disebut konfirmasi. Terjadi falsifikasi(penyalahan)
jika usaha menemukan fakta dalam pengujian hipotesa tidak sesuai dengan
hipotesa, dan bilamana usaha itu tidak berhasil, maka hipotesa tidak terbantah
oleh fakta yang dinamakan koroborasi(corroboration).
Hipotesa yang sering mendapat konfirmasi atau koroborasi dapat disebut teori.
–
Aplikasi/penerapan
apabila hipotesa itu benar dan
dapat diadakan menjadi ramalan (dalam istilah ilmiah
disebut prediksi),
dan ramalan itu harus terbukti cocok dengan fakta. Kemudian harus dapat
diverifikasikan/koroborasikan dengan fakta.
5. Teori
Teori adalah serangkaian bagian
atau variabel, definisi, dan dalil yang saling berhubungan yang menghadirkan
sebuah pandangan sistematis mengenai fenomena dengan menentukan hubungan antar
variabel, dengan menentukan hubungan antar variabel, dengan maksud menjelaskan
fenomena alamiah.
Teori juga merupakan suatu hipotesis
yang telah terbukti kebenarannya. Manusia membangun teori untuk menjelaskan,
meramalkan, dan menguasai fenomena tertentu misalnya, benda-benda mati,
kejadian-kejadian di alam,
atau tingkah laku hewan.
Sering kali, teori dipandang sebagai suatu model atas kenyataan.
Misalnya : apabila kucing mengeong berarti minta makan.
–
Hubungan antara hipotesis dengan teori
Hipotesis ini merupakan suatu
jenis proposisi yang dirumuskan sebagai jawaban tentatif atas suatu masalah dan
kemudian diuji secara empiris. Sebagai suatu jenis proposisi, umumnya hipotesis menyatakan
hubungan antara dua atau lebih variabel yang di dalamnya pernyataan-pernyataan hubungan
tersebut telah diformulasikan dalam kerangka teoritis.
Hipotesis ini, diturunkan, atau bersumber dari teori dan tinjauan literatur
yang berhubungan dengan masalah yang akan diteliti.
Oleh karena itu teori yang tepat akan
menghasilkan hipotesis yang tepat untuk digunakan sebagai jawaban sementara
atas masalah yang diteliti atau dipelajari dalam penelitian.
Dalam penelitian kuantitatif peneliti menguji
suatu teori. Untuk meguji teori tersebut, peneliti menguji hipotesis yang
diturunkan dari teori.
6. Analogi
Analogi dalam bahasa Indonesia
adalah kias (Arab: Qasa=mengukur, membandingkan). Analogi adalah suatu
perbandingan yang mencoba membuat suatu gagasan terlihat benar dengan cara
membandingkannya dengan gagasan lain yang mempunyai hubungan dengan gagasan
yang pertama.
Analogi merupakan salah satu
teknik dalam proses penalaran induktif. Sehingga analogi kadang-kadang disebut
juga sebagai analogi induktif, yaitu proses penalaran dari satu fenomena menuju
fenomena lain yang sejenis kemudian disimpulkan bahwa apa yang terjadi pada
fenomena yang pertama akan terjadi juga pada fenomena yang lain.
Tujuan :
1. Membantu seseorang
menambah dan mempercepatkan kefahaman tentang sesuatu perkara.
2. Membuat justifikasi
terhadap rumusan yang dibuat berdasarkan persefahaman antara satu objek
dengan yang lain.
3. Untuk menonjolkan ciri am
yang terdapat pada objek-objek tersebut.
4. Memungkinkan seseorang
mencipta analogi sendiri.
Macam-macam analogi
a. Analogi Induktif
Analogi induktif, yaitu analogi
yang disusun berdasarkan persamaan yang ada pada dua fenomena, kemudian ditarik
kesimpulan bahwa apa yang ada pada fenomena pertama terjadi juga pada fenomena
kedua. Analogi induktif merupakan suatu metode yang sangat bermanfaat untuk
membuat suatu kesimpulan yang dapat diterima berdasarkan pada persamaan yang
terbukti terdapat pada dua barang khusus yang diperbandingkan. Misalnya, Tim
Uber Indonesia mampu masuk babak final karena berlatih setiap hari. Maka tim
Thomas Indonesia akan masuk babak final jika berlatih setiap hari.
b. Analogi Deklaratif
Analogi deklaratif merupakan
metode untuk menjelaskan atau menegaskan sesuatu yang belum dikenal atau masih
samar, dengan sesuatu yang sudah dikenal. Cara ini sangat bermanfaat karena
ide-ide baru menjadi dikenal atau dapat diterima apabila dihubungkan dengan
hal-hal yang sudah kita ketahui atau kita percayai. Misalnya, untuk
penyelenggaraan negara yang baik diperlukan sinergitas antara kepala negara
dengan warga negaranya. Sebagaimana manusia, untuk mewujudkan perbuatan yang
benar diperlukan sinergitas antara akal dan hati.
Contoh Analogi :
1. Badannya kurus macam lidi
2. Benda itu bujur macam telur
3. Bangunan di Kuala Lumpur
tumbuh macam cendawan
4. Kanak-kanak itu lapar seperti
anak burung yang kehilangan ibu.
5. Orang itu garang macam
harimau.
7. Hubungan Kausal
Hubungan kausal sering diartikan
sebagai penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling berhubungan,
hubungan sebab – akibat (hubungan kausal) dapat berupa sebab yang sampai kepada
kesimpulan yang merupakan akibat atau sebaliknya. Pada umumnya hubungan sebab
akibat dapat berlangsungdalam tiga pola, yaitu sebab ke akibat, akibat ke
sebab, dan akibat ke akibat. Namun, pola yang umum dipakai adalah sebab ke
akibat dan akibat ke sebab. Ada 3 jenis hubungan kausal, yaitu:
(1). Hubungan sebab-akibat.
Yaitu dimulai dengan
mengemukakan fakta yang menjadi sebab dan sampai kepada kesimpulan yang menjadi
akibat. Pada pola sebab ke akibat sebagai gagasan pokok adalah akibat,
sedangkan sebab merupakan gagasan penjelas.
Contoh:
Anak-anak berumur 7 tahun mulai memasuki usia sekolah. Mereka mulai mengembangkan interaksi social dilingkungan tempatnya menimba ilmu. Mereka bergaul dengan teman-teman yang berasal dari latar belakang yang berbeda. Dengan demikian, berbagai karakter anak mulai terlihat karena proses sosialisasi.
Anak-anak berumur 7 tahun mulai memasuki usia sekolah. Mereka mulai mengembangkan interaksi social dilingkungan tempatnya menimba ilmu. Mereka bergaul dengan teman-teman yang berasal dari latar belakang yang berbeda. Dengan demikian, berbagai karakter anak mulai terlihat karena proses sosialisasi.
(2). Hubungan akibat-sebab
Yaitu hubungan yang dimulai
dengan fakta yang menjadi akibat, kemudian dari fakta itu dianalisis untuk
mencari sebabnya.
Contoh:
Dalam bergaul anak dapat berprilaku aktif. Sebaliknya, ada pula anak yang masih malu-malu dan selalu dan mengandalkan temannya. Namun, tidak dapat di pungkiri jika ada anak yang selalu mambuat ulah. Hal ini disebabkan oleh interaksi sosial yang dilakukan anak ketika memasuki usia sekolah.
Dalam bergaul anak dapat berprilaku aktif. Sebaliknya, ada pula anak yang masih malu-malu dan selalu dan mengandalkan temannya. Namun, tidak dapat di pungkiri jika ada anak yang selalu mambuat ulah. Hal ini disebabkan oleh interaksi sosial yang dilakukan anak ketika memasuki usia sekolah.
(3). Hubungan
sebab-akibat1-akibat2
Yaitu dimulai dari suatu sebab
yang dapat menimbulkan serangkaian akibat. Akibat pertama berubah menjadi sebab
yang menimbulkan akibat kedua. Demikianlah seterusnya hingga timbul rangkaian
beberapa akibat.
Contoh.
Mulai tanggal 2 april 1975 harga berbagai jenis minyak bumi dalam negeri naik. Minyak tanah, premium, solar, diesel, minyak pelumas, dan lain-lainnya dinaikan harganya, karena pemerintah ingin mengurangi subsidinya, dengan harapan supaya ekonomi Indonesia makin wajar. Karena harga bahan baker naik, sudah barang tentu biaya angkutanpun akan naik pula. Jika biaya angkutan naik, harga barang pasti akan ikut naik, karena biaya tambahan untuk transport harus diperhitungkan. Naiknya harga barang akan terasa berat untuk rakyat. Oleh karena itu, kenaikan harga barang dan jasa harus diimbangi dengan usaha menaikan pendapatan rakyat.
Mulai tanggal 2 april 1975 harga berbagai jenis minyak bumi dalam negeri naik. Minyak tanah, premium, solar, diesel, minyak pelumas, dan lain-lainnya dinaikan harganya, karena pemerintah ingin mengurangi subsidinya, dengan harapan supaya ekonomi Indonesia makin wajar. Karena harga bahan baker naik, sudah barang tentu biaya angkutanpun akan naik pula. Jika biaya angkutan naik, harga barang pasti akan ikut naik, karena biaya tambahan untuk transport harus diperhitungkan. Naiknya harga barang akan terasa berat untuk rakyat. Oleh karena itu, kenaikan harga barang dan jasa harus diimbangi dengan usaha menaikan pendapatan rakyat.
8. induksi
Dalam Metode Eksposisi
Eksposisi
adalah salah satu jenis pengembangan paragraf dalam penulisan yang dimana
isinya ditulis dengan tujuan untuk menjelaskan atau memberikan pengertian
dengan gaya penulisan yang singkat, akurat, dan padat.
Karangan
ini berisi uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi
informasi atau pengetahuan tambahan bagi pembaca. Untuk memperjelas uraian,
dapat dilengkapi dengan grafik, gambar atau statistik. Sebagai catatan, tidak
jarang eksposisi ditemukan hanya berisi uraian tentang langkah/cara/proses
kerja. Eksposisi demikian lazim disebut paparan proses.
Langkah
menyusun eksposisi:
•
Menentukan topik/tema
•
Menetapkan tujuan
•
Mengumpulkan data dari berbagai sumber
• Menyusun
kerangka karangan sesuai dengan topik yang dipilih
•
Mengembangkan kerangka menjadi karangan eksposisi.